Tentang Keras Kepala
Hari ini, secara tidak sengaja, saya terpikirkan tentang dua hal yaitu tentang keras kepala dan tentang menerima sebuah nasehat. Sebenarnya hal ini emang terpikirkan secara tidak sengaja, tapi ada hal-hal yang memicu diri saya untuk memikirkan hal-hal ini.
Merasa benar sendiri ini akan menjadi memang benar kita yang salah, ketika memang kita tidak memahami keadaan orang lain dalam menerima pendapat itu sedang seperti apa. Ketika memang pemikiran dan perlakuan yang kita bawa itu benar, maka ya sudah, jadilah unik dan jangan merasa salah, apresiasi diri sendiri karena sudah melakukan kebaikan. Tapi jika pemikiran atau perlakuan kita yang salah, yang paling penting pertama adalah bagaimana diri sendiri itu bisa menerima kekurangan, bukan langsung mencari apa kelebihan yang harus dicari.
Dari kemarin-kemarin saya bertengkar terus menerus dengan teman saya, yang pernah saya sangat sayangi, kalau sekarang hanya saya sayangi sebagai teman saja *cukup. Bertengkar dengan orang-orang saja sudah menguras tenaga, apalagi dengan orang yang saya sayangi. Rumit dan sulit, karena kami mempermasalahkan tentang apa keyakinan dan pendapat yang kami pegang, bisa jadi mempermasalahkan hal-hal yang sudah lama berlalu. Ketika sudah lelah, pasti diantara kami ada yang mengatakan stop, dan biasanya saya mengalah wkwk
Dia mengatakan bahwa saya adalah seorang yang memaksakan kehendak dan pemikiran, orang yang keras kepala, dan selalu mengganggu dirinya. Dan orang-orang pun mengatakan demikian tentang saya
Saat saya mendapatkan hal tersebut, sebenarnya saya tidak terlalu kaget, tapi penasaran sebenarnya dimana letak keras kepala saya? Dan saya bertanya dalam hati apakah saya yang keras kepala atau dia yang keras kepala? Haha. Tapi setelah saya merenungkan hal tersebut, akhirnya saya menyimpulkan bahwa keras kepala itu tergantung dari bagaimana orang melihat kita. Ketika terjadi perbedaan prinsip, pemahaman, cara berpikir, sikap, dan pendapat, seringkali kita menginginkan untuk memenangkan suatu keadaan. Hal memenangkan keadaan karena ada sesuatu yang dipegang. Sebenarnya ketika belum diungkapkan itu tidak akan diklasifikasikan keras kepala, tapi jika sudah diungkapkan dalam sikap dan perkataan, ditambah keadaan orang yang tidak bisa menerima hal tersebut, maka akan terasa sebuah pemaksaan, yang bisa jadi saya yang memaksa, atau dia yang melakukan mindblok yang ketika menerima hanya kecil sekali tekanan untuk melakukan hal yang tidak disukai, maka dia akan mengatakan "Kamu memaksa sekali". Kata-kata sekali itu memang kata2 yang mengesalkan.
Tentang merasa benar sendiri, jujur disaat orang mengatakan "Kamu keras kepala, merasa benar sendiri!", seringkali jika yang mengatakan itu adalah orang yang kita sayangi, kta akan cemas, bahwa apa sebenarnya yang dia tidak sukai. Akhirnya kita bertanya kembali, dan mengusahakan untuk menghilangkan sumber keras kepala itu. Tapi di saat kita salah, jika kita tidak mau kehilangan orang yang kita sayangi, maka kita akan cemas bahwa "kecemasan di waktu dulu" itu akan muncul kembali. Dan jika bertengkar kembali dan muncul kata-kata itu, pemikiran tersebut munucul kembali dan kita akan semakin cemas. Kita akan selalu berusaha menghapus rasa cemas itu, tapi seakan-akan rasa cemas itu seperti melakukan reinkarnasi kembali ketika sudah mati, kita akan mengalami rutinitas seperti itu, dan seakan setan mengucapkan, "selamat datang di lingkaran setan kecemasan" wkwk
Merasa benar sendiri ini akan menjadi memang benar kita yang salah, ketika memang kita tidak memahami keadaan orang lain dalam menerima pendapat itu sedang seperti apa. Ketika memang pemikiran dan perlakuan yang kita bawa itu benar, maka ya sudah, jadilah unik dan jangan merasa salah, apresiasi diri sendiri karena sudah melakukan kebaikan. Tapi jika pemikiran atau perlakuan kita yang salah, yang paling penting pertama adalah bagaimana diri sendiri itu bisa menerima kekurangan, bukan langsung mencari apa kelebihan yang harus dicari.
Seringkali kesalahan terbesar orang-orang dalam berpendapat itu adalah bagaimana orang-orang dalam menyampaikan apa yang dia pikirkan. Karena kadang-kadang orang-orang itu melakukan perbuatan yang baik, bahkan seringkali ada yang merelakan dirinya untuk melakukan hal yang baik. Namun ketika orang tersebut tidak tepat caranya dalam menyampaikan sesuatu, maka pasti orang-orang akan menjudge itu kesalahan, sebagai kesalahan memaksa sesuatu untuk mengikuti sesuatu yang dipikir oleh penyampai itu benar, tidak pandang bulu mau itu pemikiran atau hanya sikap. Itu memang jahatnya dunia, orang-orang pasti banyak yang menjudge seseorang dari sikap, bahkan bisa jadi sikap orang itu benar tapi penerima itu ketika pemiliki penerimaan yang tidak baik, pasti menganggap itu salah hahaha, walaupun tidak semua orang seperti itu, tapi orang-orang itu memang orang yang langka.
Akhirnya nanti akan didapatkan kesimpulan yang benar itu bukan memaksa sesuatu untuk mengikuti hal yg benar, tapi membuat sesuatu untuk mengikuti hal yang benar. Apa perbedaannya memaksa dan membuat? Yang paling penting perbedaannya adalah bagaimana dalam prosesnya kita memahami seseorang dan menyesuaikan cara-cara dan streategi yang kita pilih agar orang tersebut mengikuti apa yang benar, dengan menumbuhkan kekuatan berpikir orang tersebut dari dalam dengan dorongan, atau kasarnya tekanan, yang pas dan tepat dari luar orang tersebut.
Apakah pemikiran ini benar atau tidak? Lebih baik atau tidak? Saya tidak tahu wkwk tapi yang saya yakini adalah pemikiran orang-orang berkembang dan butuh waktu, semoga pemikiran saya dan pembaca akan terus berkembang setelah membaca tulisan ini hehe. Aamiin
Komentar
Posting Komentar